Minggu, 15 Juni 2014

Tugas Kewirausahaan-Laporan Sistem Penjualan

Nama Kelompok :                              Kelas : 2sa01                         Matkul : Kewirausahaan
Deviana Kurnia Ningsih                    (11612929)
Emanuela Claresta Sabatina             (12612482)
Nindy Nurdianty                                (15612336)
Puteri Dwi Cahyani                            (15612744)

PEMBUKAAN
Diadakannya kegiatan ini adalah sebagai pengaplikasian secara nyata dari tugas kewirausahaan. Dengan ilmu yang kami miliki, proses penjualan pun berjalan dengan baik. Walaupun dibeberapa hari pertama kami mengalami sedikit kendala selama proses penjualan. Kami pun merasakan terjun langsung kedalam bisnis yang menjanjikan dengan laba yang lumayan.

PEMASUKAN
a)      Produk
Produk yang kami jual adalah roti goreng.
Bahan-bahan yang diperlukan adalah:
1.      Roti tawar
2.      Sosis
3.      Terigu
4.      Air
5.      Garam
6.      Minyak goreng
7.      Saus saset

b)      Tempat
1.      Dijajakan langsung di sekitar kampus
2.      Dititipkan di warung-warung dekat kampus atau warung-warung kecil di daerah perumahan.
3.      Dijual melalui re-seller

c)      Harga
Harga yang kami tawarkan cukup terjangkau di kalangan mahasiswa.
-         1 roti goreng                             Rp.  2.000,-
-         3 roti goreng                             Rp.  5.000,-

d)      Promosi
Cara kami mempromosikan produk kami adalah dengan memberikan sample gratis sebelum kami menjual produk kami keesokan harinya.  Dengan menawarkan sample produk kami, kami bisa tahu tanggapan konsumen terhadap produk kami.


PRODUKSI
          Proses produksi yang kami lakukan untuk menciptakan produk yang sesuai dengan permintaan pasar pada waktu, harga dan jumlah yang tepat. Melalui tahapan- tahapan sebagai berikut:
a)    Proses Produksi
          Disini kami menggunakan metode dan teknik pengolahan bahan baku secara tradisional dengan menggunakan alat- alat sederhana yang pada umumnya digunakan oleh industri kecil. Bahan-bahannya pun cukup sederhana dan mudah didapat yang kami olah berdasarkan resep yang kami racik sendiri seperti yang telah dijelaskan diatas.

b)    Perencanaan
         Perencanaan yang kami buat meliputi keputusan-keputusan yang menyangkut dan berkaitan dengan masalah-masalah pokok yang terdiri dari:
·        Perencanaan jenis produk
·        Perencaan jumlah produk yang dihasilkan
·        Perencanaan cara pembuatan atau penggunaan peralatan yang dipakai

c)     Pengawasan         
          Kegiatan pengawasan ini untuk menjamin agar kegiatan dapat dilaksanakan sebagai mana mestinya. Pengawasan ini dilakukan meliputi pengawasan kinerja, pengawasan kualitas, dan pengawasan program.

PENGELOLAAN KEUANGAN
a)    Modal Awal
          Jumlah modal kami kumpulkan melalui donasi dari masing- masing mahasiswa sebagai modal awal yaitu sebesar Rp. 200.000,-
b)    Pemasukan Dan Pengeluaran
-         Penjualan
Laba minggu pertama                :  Rp.  360.000,-
Laba minggu kedua                   :  Rp.  360.000,-
Jumlah                                      :  Rp.  720.000,-

-         Pengeluaran
Belanja bahan-bahan                :  Rp.  209.500,-
c)    Saldo Keuangan
-         Pemasukan
Modal + Penjualan                   :  Rp.  920.000,-

-         Pengeluaran                              :  Rp.  209.500,-
                                                :  Rp.  710.500,-

PENUTUP
Sekian laporan penjualan ini kami buat. Semoga dapat memberikan manfaat kepada semua masyarakat yang ingin serius berkecimpung didunia bisnis makanan atau hanya sekedar sambilan dengan menyajikan menu-menu yang kreatif dan inovatif. Hal ini akan menjadikan Indonesia memiliki sumber daya manusia (sdm) yang mandiri dengan memanfaatkan sumber daya alam (sda) yang berlimpah. Masuknya produksi makanan luar pun akan sulit mendapat perhatian dimasyarakat luas karna pasar Indonesia dikuasi oleh pangsa pasar rakyat Indonesia sendiri.


Minggu, 04 Mei 2014

Tugas Kewirausahaan-Proposal Usaha "Roti Goreng"

Emanuela Claresta Sabatina
2SA01 - 12612482
Univ.Gunadarma-Sastra Inggris

BAB I
1.1  Latar belakang

Dengan adanya mata kuliah Kewirausahaan yang juga menjadi kurikulum pada perkuliahan kami di Universitas Gunadarma juga untuk memenuhi tugas dari mata kuliah tersebut,maka tercetuslah ide kami untuk membuat usaha dalam bidang makanan berupa “Roti Goreng” . Dimana makanan/kuliner termasuk cemilan/kue saat ini menjadi hal yang sangat disukai oleh pasar. Selain itu, Pembuatan roti goreng merupakan makanan masa kini dimana kami mencoba berkreasi dari bahan roti yang biasa kita makan menjadi kudapan yang lezat dan enak. 
Jarang nya penjual-penjual lain membuat roti goreng yang membuat kami Ingin menjual roti goreng tersebut. Dan sasaran pembeli kami adalah mahasiswa/i
juga masyrakat umum lainnya.

1.2  Manfaat Pembuatan Proposal

Proposal ini di buat dengan 
Manfaat : 
1.membuka usaha Kecil-kecilan untuk membuat lapangan pekerjaan baru 
2. Mencoba kreasi baru untuk cemilan dan Sarapan
.

1.3  Tujuan Pembuatan Proposal

1. Mencoba memasarkan makanan rumahan ke lingkungan luar. 
2. Mengetahui permintaan dan minat pasar terhadap roti goreng.
3. Mengembangkan kreatifitas dalam usaha 



BAB II
PERENCANAAN PROPOSAL
2.1 Aspek Produksi
Alat-alat yang dibutuhkan:
1.      Wajan
2.      Spatula
3.      Kompor gas
4.      Pisau
5.      Piring
6.      Mangkuk
7.      Capitan kue
8.      Kotak kue dari bahan plastik
Bahan-bahan yang dibutuhkan:
1.      Roti tawar
2.      Sosis
3.      Terigu
4.      Air
5.      Garam
6.      Minyak goreng
7.      Saus saset
Cara pembuatan:
1.      Potong sosis menjadi 2, lalu potong lagi menjadi 2. Jadi 1 sosis terbagi menjadi 4 potong.
2.      Masukkan terigu dan garam secukupnya ke dalam mangkuk. Lalu tambahkan air secukupnya.
3.      Masukkan roti tawar satu per satu ke dalam adonan terigu sampai seluruh permukaannya tertutupi.
4.      Ambil 1 roti yang sudah terbalut terigu dan letakkan potongan sosis ditengahnya. Gulung roti dan sisihkan di piring.
5.      Siapkan minyak goreng yang sudah dipanaskan dalam wajan dan goreng roti hingga berwarna coklat keemasan.
6.      Lanjutkan proses ini sampai semua roti habis.
2.2 Aspek Pemasaran
1.      Dijajakan langsung di sekitar kampus
2.      Dititipkan di warung-warung dekat kampus atau warung-warung kecil di daerah perumahan.
3.      Dijual melalui re-seller
2.3 Aspek Organisasi
Dalam pembuatan roti goreng ini kami sebagai mahasiswa dalam produksi dibantu oleh salah seorang kerabat dari tim penjualan roti goreng kami. Selain itu kami juga terlibat langsung juga menjual roti goreng tersebut.   

2.4 Analisis SWOT
A.    FAKTOR KEKUATAN (STRENGTH)
Menyediakan produk berupa makanan ringan sebagai cemilan yang sehat dan enak.
Harga terjangkau sesuai dengan target pasar kami yaitu kalangan pelajar juga masyarakat pada umumnya dari semua kalangan.
Bahan baku mudah didapat
Rasa enak,gurih,manis & renyah

B.     FAKTOR KELEMAHAN (WEAKNESS)
·         Pemasaran untuk saat ini belum terlalu meluas,masih dalam lingkup kecil
·         Promosi hanya dari mulut ke mulut

C.     FAKTOR PELUANG (OPPURTUNITY)
·         Didaerah sekitar masih sedikit yang memiliki usaha serupa,sehingga kami masih bisa berpeluang.
·         Biaya produksi murah
·         Di kampus sering di adakan acara-acara yang memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berjualan/membuka booth.
·         Banyaknya warung-warung di sekitar kampus dan perumahan.
·         Varian isi dari roti goreng kami yang berbeda yaitu dengan sosis,karena pada umumnya diisi dengan roghut
D.    ANCAMAN (TREATH)
·         Pesaing skala besar
·         Harga bahan yang semakin mahal
·         Perubahan selera masyarakat yang membuat kami harus selalu memunculkan inovasi baru dalam pembuatan roti goreng ini.



BAB III
PERANCANGAN KEUANGAN
3.1 Modal Usaha
Biaya Produksi (Alat)

No
Nama Barang
Harga
1
Wajan
Rp. 35.000
2
Spatula
Rp. 15.000
3
Gas 3kg
Rp. 16.500
4
Pisau
Rp.   5.000
5
Piring
Rp.   5.000
6
Baskom
Rp.   5.000
7
Capitan
Rp. 15.000
                        Total                                                                           Rp. 96.500
            Biaya Produksi (Bahan)
No
Nama Bahan
Harga
1
Roti tawar x 2 u/ 20 biji (1 kotak)
Rp. 22.000
2
Sosis Champ
Rp. 12.000
3
Air gallon
Rp. 13.500
4
Garam
Rp.   2.000
6
Minyak goreng 2lt
Rp. 26.000
7
Saus saset
Rp.   5.000
8
Mika plastik
Rp.   2.000
                        Total                                                                           Rp.  82.500
                        Total modal seluruhnya                                            Rp. 179.000
                                                                        Dibulatkan=               Rp. 200.000
3.2 PENGELOLAAN KEUANGAN
Analisis Pendapatan Bersih = (Jumlah x harga x proses produksi) – modal total
                                                    20 x 2000 x 30 = Rp. 1.200.000 – Rp. 200.000
                                                                             = Rp. 1.000.000



BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada dasarnya roti goreng ini adalah makanan enak dengan harga yang merakyat, dan dapat dikonsumsi oleh siapa saja, dari anak-anak sampai orang tua. Apalagi pembuatannya dibuat secara higienis dan menggunakan bahan-bahan yang berkualitas.
SARAN
Dapat memberikan gambaran tentang bidang usaha yang nanti nya akan memberi jaminan sukses dalam penjualannya atau peluang usaha yang dapat ditekuni sebagai usaha sampingan selain itu juga memberi kita pelajaran untuk berwirausaha
PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat guna untuk memenuhi tugas kuliah. semoga langkah ini dapat memerikan kami pengalaman baru dan bermanfaat untuk semua orang. semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat dan rahmat-Nya. Terimakasih

Senin, 10 Maret 2014

Kewirausahaan

Teori Life Path Change

Shapero & Sokol (1982) : “tidak semua wirausaha lahir dan berkembang menjadi jalur yang sistematis dan terencana”.. Antara lain disebabkan oleh:

a. Negative displacement
Seseorang bisa saja menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina atau mengalami kebosanan selama bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bisa juga karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya.
Sebagai contoh ayah saya yang berubah haluan menjadi seorang wiraswasta,akibat mengalami kebosanan saat bekerja di salah satu perusahaan swasta (karena gaji yang tidak meningkat dan bosan).

b. Being between things
Orang-orang yang baru keluar dari ketentaan, sekolah, atau penjara, kadangkala merasa seperti memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat mereka seakan berada di tengah-tengah dari dua dunia yang berbeda, namun mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Di sinilah biasanya pilihan menjadi wirausaha muncul karena dengan menjadi wirausaha mereka bekerja dengan mengandalkan diri sendiri.

c. Having positive pull
Terdapat juga orang-orang yang mendapat dukungan membuka usaha dari mitra kerja, investor, pelanggan, atau mentor. Dukungan memudahkan mereka dalam mengantisipasi peluang usaha, selain itu juga menciptakan rasa aman dari risiko usaha. Sebagai contoh seorang mahasiswa yang senang membawa kue bikinan ibunya misalkan,dan coba menjualnya di lingkup kecil terlebih dahulu. Hingga akhirnya banyak pembeli dan yang menyukai kue tersebut dan memutuskan untuk membuka usaha kue,itu juga contoh dari having positive pull.

Teori Goal Directed Behavior

Wolman (1973) : Seseorang menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya HARAPAN sebagai pemecahan.  Teori ini disebut dengan Goal Directed Behavior.

Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirausaha, motivasinya dapat terlihat dari langkah-langkahnya dalam mencapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan(need), kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Dimana dorongan itu (need) muncul dari kesadaran diri yang merasa hidup ini belum seimbang (dalam aspek finansial atau tujuan hidup).
Seseorang terjun dalam dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan.

Entreupneur adalah?
Pengertian dan definisi wirausaha menurut para ahli. Sebelumnya ada baiknya penulis bahas pengertian  dari wirausaha itu sendiri.Wirausaha atau kewirausahaan adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, berdaulat, merdeka lahir dan bathin, sumber peningkatan kepribadian, suatu proses dimana orang mengejar peluang, merupakan sifat mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dituntut untuk mampu mengelola, menguasai, mengetahui dan berpengalaman untuk memacu kreatifitas.

1. Peter F Drucker
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) .

2. Menurut Arif F. Hadipranata
 wirausaha adalah sosok pengambil risiko yang diperlukan untuk mengatur dan mengelola bisnis serta menerima keuntungan financial ataupun non uang.

3. Thomas W Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.

4. Kathleen
 mengemukakan bahwa wirausaha adalah orang yang mengatur, menjalankan, dan menanggung risiko bagi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya dalam dunia usaha.

5. Andrew J Dubrin
Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business).

6.Robbin&Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled. (Kewirausahaan adalah proses dimana seorang individu atau kelompok individu menggunakan upaya terorganisir dan sarana untuk mencari peluang untuk menciptakan nilai dan tumbuh dengan memenuhi keinginan dan kebutuhan melalui inovasi dan keunikan, tidak peduli apa sumber daya yang saat ini dikendalikan. 

 7. (Soeharto Prawiro, 1997).
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth).

8. (Acmad Sanusi, 1994)
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis.

 9. Jean Baptista Say (1816)
Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.

 10. Frank Knight (1921)
Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.

 11. Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk:
(1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
(2) memperkenalkan metoda produksi baru,
(3) membuka pasar yang baru (new market),
(4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau
(5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.

12.HarveyLeibenstein(1968,1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya

13. Penrose (1963)
Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.

14. Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio: Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu.

13. Raymond, (1995)
Wirausaha adalah orang yang kreatif dan inovatif serta mampu mewujudkanya untuk meningkatkan kesejahteraan diri masyarakat dan lingkungan.

 14. Kasmir (2006)
Wirausaha adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.

1.       Disiplin Ilmu Kewirausahaan dan Perkembangannya

Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari wirausaha dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi ekonomi agregat.

Studi kewirausahaan kemudian berkembang dalam disiplin ilmu lain yang penekanannya pada sang wirausaha sendiri. Dalam bidang ilmu psikologi, misalnya studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray dan Ranachandran (1996) menandaskan, walau terdapat perbedaan sudut pandang, penelitian yang dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap bepijak pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro. Dengan demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memengaruhi.

Sementara itu fenomena kewirausahaan ini masih terus diteliti dan belum terdapat satu pengertian baku yang dianut oleh semua ahli (Shapero, 1982). Ini menunjukkan perkembangan teori ini masih dalam perjalanan panjang serta dari adanya perubahanperubahan ekonomi dunia diharapkan memberi banyak masukan bagi peneliti.

Muculnya banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbantuk. Bagian ini menjelaskan teori-teori mengenai proses pembentukan wirausaha. Teori tersebut antara lain: life path change, goal directed behavior, teori outcome expectancy. Terakhir, terdapat acuan komprehensif mengenai teori pembetukan wirausaha yang dipadukan oleh teori-teori sebelumnya. Begitu banyak teori yang telah mengupas persoalan ini, intinya bahwa menjadi wirausaha adalah sebuah proses.



Teori Outcome Expectancy

Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu.

...judgement about likely consequences of specific behaviors in particular situations.

(Bandura, 1986:82)

Dari definisi di atas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa keberhasilannya dalam melakukan tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dengan segera atau dalam jangka panjang. Karenanya jika seseorang menganggap profesi wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan berusaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell, seorang mahasiswa teknik komputer di AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila dia geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan usaha dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Dell dan IBM terus bersaing di industri komputer.


Jenis Outcome Expectancy

Menurut bandura (1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:

a. Insentif primer
Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan isiologis kita seperti makan, minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat nilainya jika seseorang dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang makan/minum.

b. Insentif sensoris
Beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya. Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan insemtif sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus baru untuk dilihat atau orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan balik sensoris berupa bunyi musik yang dimainkan.

c. Insentif sosial
Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman daripada reaksi yang berasal dari satu individu.

d. Insentif yang berupa token ekonomi
Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain. Hampir seluruh masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan dengan uang, individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya, mulai dari pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.

e. Insentif yang berupa aktivitas
Teori-teori mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis, mengasumsikan bahwa imbalan akan memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan atau mengurangi dorongan fisiologis. Ternyata dari penelitian terbaru diketahui bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan fisik justru memberikan nilai insentif yang tersendiri pada individu.

f. Insentif status dan pengaruh
Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosial memberikan kesempatan kepadnya untuk mengontrol perilaku orang lain, baik melalui simbol atau secara nyata. Dengan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat, mereka dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan, dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.

g. Insentif berupa terpenuhinya standar internal
Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang merasakan bahwa kemampuannya tidak akan dapat optimal bila hanya bekerja sebagai karyawan, akan lebih puas bila ia merasa bahwa dengan berwirausaha segenap potensinya dapat tersalurkan.

Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial, insentif status dan pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar internal.


Tujuan Pembentukan Wirausaha

Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:

a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untuk mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).

b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.

c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman, 1973).

d. Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika seseorang melaukan kegiatan tertentu.


Peran Pendidikan dalam Pembentukan Wirausaha

Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembetukan kewirausahaan? Masih ada perdebatan mengenai pertanyan ini. Meskipun seorang wirausaha belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart dari padabooksmart, maksudnya adalah seorang wirausaha lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart) dibandingkan dengan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa kewirausahaan leat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.

Terhadap pendangan di atas, Chruchill (1987) memberi sanggahan terhadap pendapat ini, menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama dari seorang wirausaha adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun dia juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seoranga wirausaha, baginya sumber kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi miskin pengalamam lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utaman yang menentukan keberhasilan wirausaha.

Menurut Eels (1984) dan Mas’oed (1994), dibandingkan dengan tenaga lain tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil menjadi seorang wirausaha karena memiliki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir yang lebih luas. Seorang sarjana juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah, sehingga pegnetahuan manajemen dan keteknikan yang memadai mutalk diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan keilmuan yang lengkap.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan seta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir.

Faktor pemicu kewirausahaan
David C.McCleland (1961) mengemukakan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) ditentukan oleh :
1.Motif berprestasi (achievement)
2.Optimisme (Optimism)
3.Sikap-sikap Nilai ( Value Attitudes)
4.Status Kewirausahaan (Entrepreneurial status) atau keberhasilan

 Ibnoe Soejono dan Roopke, proses kewirausahaan atau tindakan kewirausahaan (Entrepreneurial action) merupakan fungsi dari:
1.property right (PR)
2.competency/ability (C)
3.incentive (I)
4.external environment (E)

 Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah:
1.hak kepemilikan (property right)
2.kemampuan/kompetensi (competency/ability)
3.insntif

Faktor eksternalnya adalah lingkungan.
Menurut Ibnoe Soedjono kemampuan kewirausahaan merupakan fungsi dari perilaku kewirausahaan dalam mengkombinasikan kreativitas, inovasi, kerja keras dan keberanian menghadapi risiko untuk memperoleh peluang.


Wirausaha dari berbagai Sudut Pandang
Pandangan Ahli Ekonomi:
Wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan dan mengorganisasikan faktor- faktor produksi untuk tujuan memproduksi barang dan jasa, sehingga meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Pandangan Ahli Manajemen:
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur internal yang meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan, semangat dan kemampuan untuk  memanfaatkan peluang usaha.

Pandangan Pelaku Bisnis
Wirausaha adalah seorang pengusaha, yang merupakan pelopor dalam bisnis, inovator, penanggung risiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha. (pengusaha yang kreatif).

Pandangan Psikolog
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki dorongan kuat dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka berekseperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya di luar kekuasaan orang lain.

Pandangan Pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan membuka lapangan kerja yang disenangai masyarakat.

Kesamaan Semua Pandangan yaitu seseorang yang memiliki kemampuan kreatif, inovatif, berani menanggung risiko, serta selalu mencari peluang melalui potensi yang dimilikinya.

sumber :

http://adesyams.blogspot.com/2009/09/ruang-lingkup-dan-proses-terbentuknya.html
http://lifeskill.staff.ub.ac.id/2013/10/01/pengertian-dan-definisi-wirausaha-menurut-para-ahli-2/
http://kartikagaby.wordpress.com/2011/12/05/faktor-faktor-pemicu-kewirausahaan/