when on fire but gave up, when smiling but in the middle of the road,when wanted to stop but not really wanted to stop. Knowing him made me such a female chameleon. chameleon that was not sure about its situation and female that always waiting for the male. when was it be over?
Jumat, 21 Juni 2013
Bunglon Betina
Ketika bergairah tapi menyerah,ketika tersenyum tapi bimbang,ketika ingin berhenti tapi
belum benar-benar ingin berhenti. Mengenalnya membuat aku seperti bunglon betina. Bunglon yang tak tentu keadaannya dan betina yang menunggu jantannya, sampai kapankah??
Senin, 13 Mei 2013
Penganggum Rahasia
Ketika hanya bisa melihatmu dari jauh,Kau dengan kaos abu-abu,celana jins biru,dan sepatu bergaya boots. Aku dengan kaos biru dongker berlapis blazer hitam modern,celana jins biru, dan sepatu flatshoes putih,saat terakhir aku melihatmu waktu itu ,walau bukan benar-benar yang terakhir. Melihatmu berjalan dan berbincang gembira dengan teman-temanmu, dan aku hanya tersenyum sipu,memerah pipi ini.
Aku juga tak mengerti apa yang membuat ku mengaggumimu,mungkin karena ketampanan dan jiwa senimu yang begitu memikat.
Terimakasih sudah membuatku tersenyum gila,menjadi topik hangat untuk kubagi dengan teman-teman wanitaku, dan menjadi bagian fantasi dari lagu-lagu yang kudengarkan...Meski semuanya itu terasa menggantung
Selasa, 07 Mei 2013
Buntut Bali,KAlimantan Tengah-Kepariwisataan
Pada tulisan ini,saya akan membahas tentang suasana dan keadaan salah satu desa di KAlimantan Tengah yaitu Buntut Bali.
Buntut BAli adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kalimantan tengah yang untuk mencapai kesana kita harus naik getek(perahu kecil) dan melewati sungai KAtingan.Perjalanan di tempuh sekitar 1 jam setengah dari pelabuhan Kasongan. Waktu itu saya pergi kesana saat umur saya 9 tahun,ya sekitar kelas 4 SD. Itu pertama kalinya saya ke Pulau Kalimantan dan ke Desa Buntut BAli kampung halaman almarhum kakek saya. Perjalanan ke Buntut BAli menjadi perjalanan yang menyenangkan sekaligus menyeramkan. Karena pertama kalinya saya menaiki perahu kecil(getek) yang jarak dengan permukaan sungai sangat dekat sekali dan katanya banyak buaya di sungai itu hiiiii.... menyeramkan..tp untungya selama perjalanan tidak terjadi apa-apa :D. Setelah sampai, saya melihat banyak wanita baik ibu-ibu atau anak-anak yang memakai sesuatu bubuk putih di wajahnya,seperti masker. Ternyata itu adalah bedak dingin. Orang-orang di desa tersebut terbiasa menggunakannya untuk mendinginkan wajah mereka.
Setelah itu saya diajak almarhum kakek saya juga keluarga yang lain untuk mengunjungi rumah saudara kakek saya dan menginap disitu selama 2 hari 1 malam. HAri pertama,Saya merasa sangat tidak nyaman,mungkin karena belum terbiasa tinggal di rumah panggung,mandi di tempat terbuka,dan penerangan rumah juga jalanan yang kurang memadahi. Di hari itu kami hanya menghabiskan waktu berkumpul dengan saudara dari kakek saya yang tinggal di desa itu.Tapi di satu sisi itu adalah pengalaman yang seru.Lalu keesokan harinya saya diajak untuk berkeliling desa dan sempat melihat rumah-rumah kecil yang digantung dibeberapa tepi jalan di desa tersebut. Dan ternyataa...itu adalah tempat sesajen bagi para leluhur yang memang menjadi tradisi desa Buntut Bali hiii menyeramkan...Orang-orang di Buntut Bali memang masih menganut anim
Buntut BAli adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kalimantan tengah yang untuk mencapai kesana kita harus naik getek(perahu kecil) dan melewati sungai KAtingan.Perjalanan di tempuh sekitar 1 jam setengah dari pelabuhan Kasongan. Waktu itu saya pergi kesana saat umur saya 9 tahun,ya sekitar kelas 4 SD. Itu pertama kalinya saya ke Pulau Kalimantan dan ke Desa Buntut BAli kampung halaman almarhum kakek saya. Perjalanan ke Buntut BAli menjadi perjalanan yang menyenangkan sekaligus menyeramkan. Karena pertama kalinya saya menaiki perahu kecil(getek) yang jarak dengan permukaan sungai sangat dekat sekali dan katanya banyak buaya di sungai itu hiiiii.... menyeramkan..tp untungya selama perjalanan tidak terjadi apa-apa :D. Setelah sampai, saya melihat banyak wanita baik ibu-ibu atau anak-anak yang memakai sesuatu bubuk putih di wajahnya,seperti masker. Ternyata itu adalah bedak dingin. Orang-orang di desa tersebut terbiasa menggunakannya untuk mendinginkan wajah mereka.
Setelah itu saya diajak almarhum kakek saya juga keluarga yang lain untuk mengunjungi rumah saudara kakek saya dan menginap disitu selama 2 hari 1 malam. HAri pertama,Saya merasa sangat tidak nyaman,mungkin karena belum terbiasa tinggal di rumah panggung,mandi di tempat terbuka,dan penerangan rumah juga jalanan yang kurang memadahi. Di hari itu kami hanya menghabiskan waktu berkumpul dengan saudara dari kakek saya yang tinggal di desa itu.Tapi di satu sisi itu adalah pengalaman yang seru.Lalu keesokan harinya saya diajak untuk berkeliling desa dan sempat melihat rumah-rumah kecil yang digantung dibeberapa tepi jalan di desa tersebut. Dan ternyataa...itu adalah tempat sesajen bagi para leluhur yang memang menjadi tradisi desa Buntut Bali hiii menyeramkan...Orang-orang di Buntut Bali memang masih menganut anim
isme,yaitu percaya pada nenek moyang. Dan memang beberapa keluarga dari kakek saya yang tinggal di desa Buntut Bali masih menganut kepercayaan tersebut. Dan tak lama setelah itu,siang menjelang sore kamipun kembali ke Kota PAlangkaraya ke rumah almarhum kakek saya. KAmi menghabiskan waktu sekitar 5 hari di KAlimantan lalu kembali ke Jakarta. Itu adalah penglaman yang seru mengunjungi daerah yang belum tersentuh dengan kemodern-an.
Rabu, 01 Mei 2013
Monumen Palagan Ambarawa (KEpariwisataan)
Monumen Palagan Ambarawa
Saat saya SMA kelas 2,sekolah saya mengadakan study tour ke beberapa wilayah di Jawa Tengah,salah satu destinasi kami adalah Monumen Palagan Ambarawa. Waktu itu saya dan rombongan menggunakan salah satu biro perjalanan untuk melaksanakan study tour ini,kami berkumpul pukul 07.00 WIB dan berangkat sekitar 1 jam berikutnya,dikarenakan harus mendata ulang seluruh siswa dan briefing. Study tour ini dilaksanakan 4 hari 3 malam. Monumen Palagan Ambarawa adalah destinasi kami di hari ke dua. Setelah hari pertama kami mengunjungi Dieng kami turun menuju AMbarawa(Monumen Palagan Ambarawa) di hari kedua. Monumen PAlagan Ambarawa adalah simbol pertempuran Palagan Ambarawa saat pemerintahan Jepang dan Belanda.Di tempat wisata ini juga terdapat museumnya yang berisi alat perang,kendaraan perang,dan seragam para pasukan Belanda dan Jepang. Saya terpukau melihat isi dari museum tersebut,serasa kembali ke jaman dahulu,dan senang bisa melihat bagaimana perlengkapan perang jaman Belanda dan JEpang dahulu. Tapi sayangnya Museum ini seperti tidak terurus , fasilitas kamar kecil bagi para wisatawan juga sudah tidak bagus dan rusak,dan didalam museumnya sendiri juga banyak debu-debu dikaca sehinnga museum tidak terlihat indah. Tapi bagaimanapun saya senang bisa melihat dan mengunjungi Museum Ambarawa dan mungkin pesan bagi pemerintah daerah untuk tetap menjaga dan merawat aset wisata Ambarawa ini.
Saat saya SMA kelas 2,sekolah saya mengadakan study tour ke beberapa wilayah di Jawa Tengah,salah satu destinasi kami adalah Monumen Palagan Ambarawa. Waktu itu saya dan rombongan menggunakan salah satu biro perjalanan untuk melaksanakan study tour ini,kami berkumpul pukul 07.00 WIB dan berangkat sekitar 1 jam berikutnya,dikarenakan harus mendata ulang seluruh siswa dan briefing. Study tour ini dilaksanakan 4 hari 3 malam. Monumen Palagan Ambarawa adalah destinasi kami di hari ke dua. Setelah hari pertama kami mengunjungi Dieng kami turun menuju AMbarawa(Monumen Palagan Ambarawa) di hari kedua. Monumen PAlagan Ambarawa adalah simbol pertempuran Palagan Ambarawa saat pemerintahan Jepang dan Belanda.Di tempat wisata ini juga terdapat museumnya yang berisi alat perang,kendaraan perang,dan seragam para pasukan Belanda dan Jepang. Saya terpukau melihat isi dari museum tersebut,serasa kembali ke jaman dahulu,dan senang bisa melihat bagaimana perlengkapan perang jaman Belanda dan JEpang dahulu. Tapi sayangnya Museum ini seperti tidak terurus , fasilitas kamar kecil bagi para wisatawan juga sudah tidak bagus dan rusak,dan didalam museumnya sendiri juga banyak debu-debu dikaca sehinnga museum tidak terlihat indah. Tapi bagaimanapun saya senang bisa melihat dan mengunjungi Museum Ambarawa dan mungkin pesan bagi pemerintah daerah untuk tetap menjaga dan merawat aset wisata Ambarawa ini.
Senin, 22 April 2013
Telaga Warna Dieng ( Kepariwisataan)
Telaga
Warna Dieng
Telaga warna adalah salah satu tempat
wisata di daerah Dataran Dieng,Jawa Tengah. Tempat ini begitu indah dan
terkenal dengan telaganya yang bisa
berubah warna karena efek sinar matahari yang memantul ke telaga tersebut.
Waktu itu saya pergi bersama rombongan sekolah saya waktu saya SMA. Kami pergi
ke Telaga Warna untuk melihat keindahan dan meneliti bagaimana sejarah dan
kebudayaan di daerah Dieng. Saat kami sampai di Telaga Warna udara begitu
dingin hingga mulut kami bisa mengeluarkan asap,karena letaknya ada di dataran
tinggi, dan pemandu kami berkata bila musim hujan suhu bisa sampai 0 derajat
celcius. Saat kami memasuki telaga warna saya sangat takjub melihat keindahan
telaga tersebut. Dikelilingi pohon-pohon dan serasa berada di hutan tropis yang
sejuk seperti dongeng-dongeng. Telaga tersebut juga mengandung belerang. Konon
katanya dulu ada seorang orang raja memiliki cincin kramat dan terjatuh ke
telaga tersebut oleh sebab itulah telaga itu bisa berubah warna. Tak jauh dari
telaga itu juga ada gua yang terkunci/dipagari dan ada sumur didalamnya yang
konon katanya itu adalah tempat raja bertapa,dan yang meminum air dari sumur
itu bisa awet muda.
Di daerah Telaga Warna,Dieng ,saya juga
menemukan keanehan yang juga menjadi salah satu daya tarik bagi para
wisatawan,yaitu banyak anak di daerah tersebut yang berambut gimbal,dan
kegimbalan rambut mereka memang tumbuh sejak kecil. Diceritakan ketika anak
tersebut berusia balita rambut akan menggimbal jika ingin dipotong rambut
gimbalnya, semua permintaan anak-anak gimbal ini harus ditepati dengan upacara
ruwatan dan menyiapkan sesaji,karena kalau tidak rambut akan kembali menggimbal
dan ditandai dengan sakit-sakitan bahkan gila. Ini hal yang sungguh unik yang
baru saya ketahui.
Itulah
keistimewaan dari Telaga Warna dan bagi anda yang belum pernah mengunjungi
wajib datang untuk menikmati pesona Telaga Warna sambil menambah pengetahuan
kita.. :D
Malioboro- Kepariwisataan
Malioboro
Malioboro,siapa
yang tak kenal nama jalan di Pusat Kota Jogjakarta ini. Dipenuhi oleh puluhan
tempat makan,jajanan,dan tempat oleh-oleh. Malioboro adalah salah satu nama
jalan di Jogja yang juga merupakan tempat wisata bagi para wisatawan. Termasuk
saya,waktu saya SMA saya pernah mengunjungi Mlioboro,Jogjakarta.Waktu itu sekolah saya mengadakan study tour selama 4 hari 3 malam,dengan biro perjalanan dan salah satu destinasi kami adalah Malioboro.Malioboro adalah destinasi kami di hari ketiga. Waktu itu
adalah pertama kalinya saya menikmati kota Jogjakarta setelah selama ini saya
hanya menonton di televisi bagaimana keseruan berjalan-jalan di Jogjakarta.
Destinasi pertama saya dan rombongan SMA saya waktu itu adalah Malioboro. Kami
diberi kesempatan untuk menikmati Malioboro secara bebas. Saya dan teman-teman
pun tidak melewatkan kesempatan itu. Kami pergi berbelanja dan membeli beberapa buah tangan. Hingga saya dan
teman-teman pun pensaran ingin berkeliling Malioboro,kamipun naik becak dan
diantar berkeliling Malioboro malam itu. Kami melewati alun-alun,tempat-tempat
jajanan,tempat oleh-oleh dan itu sangat menyenangkan,apalagi di Jakarta
sekarang ini hampir lama kami tidak pernah menikmati rasanya naik becak. Kami
juga tidak ketinggalan untuk mencoba kuliner jogja,yaitu tempat makan
angkringan yang terkenal dengan nasi kucingnya.
Saya dan teman-teman sangat menikmati keindahan kota Jogja
malam itu. Dihiasi ramainya penduduk dan para wisatawan lainnya yang juga
sedang menikmati susana malam di Jogja yang dihiasi lampu-lampu kota. Setelah beberapa jam menikmati malioboro,kami menginap disalah satu Hotel di Jogjakarta yang tidak jauh dari MAlioboro(saya lupa nama hotel tersebut). Hotel tersebut memiliki fasilitas yang sangat baik,kamarnya pun luas,bersih,dengan 2 bed dan bathroom didalamnya. Dan pelayananya juga sangat baik kepada para wisatawan yang menginap di tempat tersebut. Saya dan teman-teman pun menikmati kenyamanan di Hotel tersebut dna kamipun beristirahat untuk destinasi selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)
